Oleh: pancat | Februari 14, 2008

Umar bin Khattab

Seperti Biasa Umar Ibnu Al-Khattab keliling kota madinah malam itu untuk melihat secara langsung keadaan rakyatnya. Beliau waktu itu menjabat sebagai Khalifah di Madinah. Sebagai pemimpin tertinggi beliau merasa sangat bertanggung jawab akan kesejahteraan rakyatnya. Beliau takut kelak dihadapan Ilahi akan dimintai pertanggungjawaban atas segala yang dipimpinnya.
Hingga beliau tiba di salah satu rumah seorang janda yang tinggal bersama beberapa anaknya yang masih kecil2.
Malam itu Umar mendengar suara tangisan anak2 tersebut, disamping ada suara lain seperti suara air yang sedang mendidih diatas tungku api. Merasa penasaran, Umar mengetuk pintu rumah tersebut :” Assalamu ‘alaikum ” katanya.
Setelah dibukakan pintu, Umar bertanya kepada perempuan pemilik rumah “Ada apa gerangan , kenapa anak2 mu pada menangis ?”,
“Anak2ku pada menangis karena kelaparan ”
“Bukankah kamu memasak makanan ? ” tanya Umar.
“Yang saya masak itu adalah batu yang saya rebus untuk menghibur anakku biar mereka tenang, kalo mereka ingin makan saya bilang ‘nak makanannya belum matang tunggu sebentar ya’ begeitu seterusnya, karena saya tidak punya gandum dan makanan lain untuk dimasak”
Umar merasa terpukul dengan jawaban tadi, dengan cepat dia pergi ke rumah, mengambil 2 karung gandum lantas dengan dipanggul sendiri dipundaknya dia bawa gandum tersebut ke rumah sang ibu tadi.
“Wahai ibu yang baik, ini aku bawakan 2 karung gandum untuk dimasak, mudah2an anak2mu tidak akan kelaparan lagi”
“Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan berlipat, anda sangat baik sekali bahkan lebih baik dari pada sang khalifah” kata perempuan tersebut yang rupanya tidak tahu bahwa laki-laki yang ada didepannya adalah sang khalifah Umar yang sedang menyamar.

Itulah sosok pemimpin Umar bin Khotob, dia bawa sendiri makanan dengan dipikul, dia tidak mau gandum itu dibawakan oleh orang lain, karena merasa bersalah salah satu rakyatnya berada dalam kelaparan.

Andaikata pemimpin negeri ini bersikap sepertiĀ  beliau …dengan mata kepala sendiri melihat kondisi rakyatnya tentu akan beda dibandingkan hanya mendengar laporan dari bawahannya saja..

Iklan

Responses

  1. assalamu’alaikum
    ijin ambil kisah ttg sahabat umar bin khotob ya
    jazakallohu

  2. Silahkan mbak Hani, mudah2an bisa memberikan hikmah yang banyak ttg kisah ini bagi yang membacanya.

    –PS–

  3. subhanallah….
    begitu mulia sahabat nabi umar bin khotob ini….

    semoga saja kelak indonesia dipimpin oleh pemimpin seperti umar bin khotob…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: