Oleh: pancat | November 9, 2013

Mecca Live Streaming

Iklan
Oleh: pancat | Februari 14, 2008

Umar bin Khattab

Seperti Biasa Umar Ibnu Al-Khattab keliling kota madinah malam itu untuk melihat secara langsung keadaan rakyatnya. Beliau waktu itu menjabat sebagai Khalifah di Madinah. Sebagai pemimpin tertinggi beliau merasa sangat bertanggung jawab akan kesejahteraan rakyatnya. Beliau takut kelak dihadapan Ilahi akan dimintai pertanggungjawaban atas segala yang dipimpinnya.
Hingga beliau tiba di salah satu rumah seorang janda yang tinggal bersama beberapa anaknya yang masih kecil2.
Malam itu Umar mendengar suara tangisan anak2 tersebut, disamping ada suara lain seperti suara air yang sedang mendidih diatas tungku api. Merasa penasaran, Umar mengetuk pintu rumah tersebut :” Assalamu ‘alaikum ” katanya.
Setelah dibukakan pintu, Umar bertanya kepada perempuan pemilik rumah “Ada apa gerangan , kenapa anak2 mu pada menangis ?”,
“Anak2ku pada menangis karena kelaparan ”
“Bukankah kamu memasak makanan ? ” tanya Umar.
“Yang saya masak itu adalah batu yang saya rebus untuk menghibur anakku biar mereka tenang, kalo mereka ingin makan saya bilang ‘nak makanannya belum matang tunggu sebentar ya’ begeitu seterusnya, karena saya tidak punya gandum dan makanan lain untuk dimasak”
Umar merasa terpukul dengan jawaban tadi, dengan cepat dia pergi ke rumah, mengambil 2 karung gandum lantas dengan dipanggul sendiri dipundaknya dia bawa gandum tersebut ke rumah sang ibu tadi.
“Wahai ibu yang baik, ini aku bawakan 2 karung gandum untuk dimasak, mudah2an anak2mu tidak akan kelaparan lagi”
“Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan berlipat, anda sangat baik sekali bahkan lebih baik dari pada sang khalifah” kata perempuan tersebut yang rupanya tidak tahu bahwa laki-laki yang ada didepannya adalah sang khalifah Umar yang sedang menyamar.

Itulah sosok pemimpin Umar bin Khotob, dia bawa sendiri makanan dengan dipikul, dia tidak mau gandum itu dibawakan oleh orang lain, karena merasa bersalah salah satu rakyatnya berada dalam kelaparan.

Andaikata pemimpin negeri ini bersikap sepertiĀ  beliau …dengan mata kepala sendiri melihat kondisi rakyatnya tentu akan beda dibandingkan hanya mendengar laporan dari bawahannya saja..

Oleh: pancat | Februari 14, 2008

Pesan guru pada muridnya

Seorang guru memberikan bekal kepada salah satu muridnya yang akan pergi merantau :
“Nak, sesampainya kamu di kehidupan masyarakat baru nanti, ambillah sebatang kayu yang halus dan beberapa butir paku. Tiap malam, merenunglah atas apa saja yang telah kamu perbuat terhadap orang lain pada siang hari sebelumnya. Setiap kamu berbuat jelek atau sehabis menyakiti hati orang lain, pukullah satu batang paku kedalam kayu halus yang kamu bawa.
Sebaliknya …. setiap kamu berbuat satu kebaikan terhadap orang lain, atau kamu meminta maaf terhadap orang yang telah engkau sakiti maka cabutlah satu batang paku dari batang kayu tersebut.
Setelah satu bulan coba kamu amati kembali batang kayu itu, ada berapa batang paku yang masih tersisa pada kayu tersebut ??? Dan lihatlah ada berapa lubang pada kayu karena bekas dari paku yang telah kamu cabut. Ingatlah muridku … meskipun kamu telah mencabut satu batang paku, kamu lihat masih tersisa lubang pada kayu itu. Ibaratkan kayu tadi adalah hati seorang manusia, meskipun engkau telah meminta maaf, maka akan ada bekas lubang meskipun paku telah kamu cabut.
Oleh karena itu muridku, jangan sampai kamu menyakiti hati orang lain baik itu melalui lisan kamu, perbuatan kamu taupun yang lainnya. Karena sekali kamu sakiti hati orang, bekas itu akan sulit untuk dihilangkan meski kamu telah meminta maaf (seperti halnya kamu cabut paku dari batang kayu itu, masih tampak bekas lubang)”

Oleh: pancat | Februari 13, 2008

Dialog anak dan paman

Suatu hari, kurang lebih 1400 an tahun lalu sang paman mendatanginya sembari berkata :
“Hai anak saudaraku, beberapa hari lalu telah datang menemuiku para pemuka kota ini. Mereka menawariku segala hal yang kamu mau. Apakah kamu mau kekuasaan ? harta yang berlimpah ? mereka akan mengumpulkan seluruh harta dari para bangsawan di kota ini untukmu. Apakah kamu mau istri yang cantik ? mereka akan carikan seluruh wanita tercantik di kota ini, lantas kamu bisa memilihnya mana yang kamu suka. Tapi ada satu hal, kamu akan mendapatkan semuanya dengan syarat harus berhenti mendakwahkan ajaranmu itu”.
Sang keponakan, dengan berlinang air mata menjawab kepada paman yang selama ini mengasuhnya :
“Wahai paman, meskipun diberikan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, niscaya tidak akan pernah aku berhenti meluaskan ajaran Allah ini kepada seluruh umat manusia “.
Itulah jawaban keponakan yang tidak haus akan kekuasaan, harta ataupun wanita. Semua dia lakukan demi tersiarnya ajaran Allah (Islam) di muka bumi ini sebagai rohmatan lil ‘alamin.
Meskipun penindasan dan intimidasi selalu menerpa beliau dan pengikutnya, beliau sebagai nabi dan rosul terakhir tetap tabah menyebarkan ajaran Islam hingga ke seluruh penjuru dunia.

Oleh: pancat | Februari 13, 2008

Pengalaman di KRL …

Tadi pagi sewaktu berangkat kerja naik KRL (kereta rel listrik) seperti biasanya penumpang lumayan berjubel, tentu saja yang naik di stasiun berikut sudah nggak kebagian tempat duduk lah. Termasuk seorang ibu yang bawa anak balita 2 tahun ikutan naik akhirnya berdiri juga. Hal ini saya amati penuh karena saya juga berdiri beberapa meter di sebalah kiri ibu tersebut. Lumayan juga berdiri sambil menggendong anaknya yang baru berumur 2 tahun tsb. Karena saya juga berdiri ya mana mungkin dong nawarin tempat duduk buat dia ??? yang aneh, begitu ibu tadi naik dan berdiri di kereta tersebut, nggak tahu ada komando dari mana orang2 yang duduk di depan dia (laki-laki) serempak tertidur (baca : pura2 tidur). Dalam hati saya ketawa aja, tapi juga sedih … seperti inikah warga kita sekarang ? dimana sudah tak ada lagi rasa empati terhadap orang lain yang lebih menderita ? satu contoh kecil tadi menggugah perasaan saya. Seorang ibu yang lagi kerepotan gendong anak, berdesakan dalam kereta, mestinya yang lebih longgar, gak bawa anak, apalagi seorang laki2, memberikan kesempatan kepada ibu tadi untuk menempati tempat duduknya dan relakanlah untuk berdiri. Saya lantas teringat akan sebuah nasehat “Berikanlah kelonggaran kepada orang yang lebih memerlukan selagi kamu bisa, niscaya Allah akan memberikan kelonggaran dan kelapangan kepadamu disatu saat nanti”. Rupanya nasehat ini jarang orang yang tahu, atau tahu tapi melupakannya.

Semoga Allah senantiasa memberikan jalan-NYA bagi kita semua, terutama bangsa ini. Amin.

Older Posts »

Kategori