Oleh: pancat | Februari 12, 2008

Hikmah Musibah

Masjid di Aceh

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar,” (QS Asy-Syuura: 30)
Dalam menjelaskan ayat di atas, Al Allamah ar-Raghib al-Asfahani berkata, “Allah menurunkan fitnah dan musibah kepada hambanya berupa azab, musibah, korban jiwa dan kerusakan alam karena ada hikmah yang Allah titipkan kepada hamba-Nya. Yang terpenting, bagaimana seorang hamba menarik pelajaran berharga dari setiap peristiwa. Tapi manusia sering hanyut dengan kesedihan tanpa merasakan sentuhan rabbani dan pelajaran berharga dari musibah yang ia alami. Mereka pun akhirnya lalai dari bertaubat dan mengambil pelajaran.
Ujian merupakan sunnatullah dalam kehidupan. Ia merupakan hukum Allah yang tak bisa dibantah. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabut :2)
Di ayat lain, Allah Ta’ala menjelaskan bentuk-bentuk musibah tersebut. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS al-Baqarah: 155).
Allah menyebutkan dengan ungkapan “sedikit ketakutan dan kelaparan”. Maknanya, manusia lemah dan tak berdaya di hadapan kekuasaan dan keperkasaan-Nya di dunia berupa ujian, cobaan dan bencana. Tapi jika dibandingkan dengan Hari Kiamat yang akan terjadi, yang sering dilupakan manusia, itu tidaklah seberapa. Pedihnya siksa Allah pada Hari Kiamat nanti akan dihadapi orang-orang kafir dan orang-orang fasik. Semua itu tak terbayangkan hakikatnya, walaupun terbayangkan wujudnya. “Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan menjadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya,” (QS Al-Infithaar: 1-6).
Imam Syafi’i menjelaskan beberapa tujuan dari ujian yang Allah timpakan kepada manusia. Pertama, meninggikan derajat orang-orang beriman. Beliau pernah ditanya, mungkinkah seseorang mendapat amanah dan tamkin (amanah kepemimpinan dari Allah) tanpa mendapat ujian dan rintangan berat? Beliau menjawab, tidak mungkin. Karena itulah, Allah memberikan ujian berat kepada para Nabi alaihissalam.
Betapa sedih hati kita dengan kepergian para ulama yang syahid sebelum dan sesudah badai Tsunami di Aceh beberapa tahun lalu. Selayaknya, hal ini menjadi perhatian umat Islam Indonesia untuk mengirim tenaga pengajar dan asatidz untuk membangun kembali kemegahan agama di Bumi Serambi Makkah itu. Jangan sampai masjid berubah menjadi museum sejarah, tempat menumpuk kenangan akan kejayaan masa silam.
Kedua, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Baik kekuasaan yang tidak kelihatan berupa malaikat-malaikat yang siap diperintah oleh Allah kapan saja, maupun yang kelihatan. “Hai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan,” (QS al-Ahzab: 9).
Kekuasaan Allah yang tampak berupa alam yang bisa langsung dilihat manusia. Mulai dari banjir, kekeringan, angin badai, gempa, angin topan, penyakit menular, rasa takut hingga kelaparan. Semua itu dimaksudkan agar manusia sadar lalu mengevaluasi kembali tingkah laku yang tidak sesuai dengan hukum Allah. Terkadang, manusia menjadi sadar setelah tertimpa musibah. “Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa,” (QS al-A’raaf: 133)
Ketiga, melalui peristiwa ini Allah ingin membedakan orang-orang Mukmin hakiki dan yang imannya palsu. Sebab, banyak orang yang mengaku Muslim tapi berloyalitas kepada selain non-Muslim. Ini jelas bertentangan dengan agama Allah, walaupun mereka mengaku Muslim. Begitu juga di Aceh. Meski syariat Islam telah dideklarasikan, namun masih banyak terjadi pelanggaran syariat seperti korupsi, maraknya tempat maksiat, dan sebagainya. Musibah dapat membedakan antara orang yang benar-benar beriman dan yang kadar keimanannya lemah apalagi palsu.
Maha Benar Allah dengan firman-Nya, “Dan apabila lautan dijadikan meluap,” (QS Al-Infithaar: 3). Bayangkan ketika lempengan bumi koyak, air di pantai naik, bergulung, meninggi lalu membentuk dinding yang tinggi menjulang. Setelah itu, air itu roboh menghantam segala sesuatu yang ada di darat dengan kecepatan luar biasa diiringi ledakan dahsyat yang menenggelamkan segala-galanya. Setelah semua ini, adakah hati yang masih membatu? Adakah mata yang masih buta? Adakah telinga yang masih tuli?
Tak terbayangkan sebelumnya, mayat-mayat bergelimpangan, gedung-gedung berantakan, rumah-rumah porak-poranda. Ini belum seberapa jika dibandingkan dengan kiamat kecil (qiyamah shugra). Apalagi tidak bisa dibandingkan dengan kiamat besar (qiyamah kubra) yang pasti terjadi. Banyak masjid yang tetap utuh, yang kembali menandakan kemahabesaran Allah SWT.

About these ads

Responses

  1. Subhanallah…
    Kebaekan akan berbuah kebaekan, keburukan akan berbalas azab yang pedih. Musibah bisa menjadi cobaan keimanan, tapi juga bentuk azab di dunia atas segala keruksakan yang dibuat oleh tangan-tangan kita…

    Makasih-makasih…
    *cun tangan ustadz*

  2. SEHARUS NYA PAR PENERUS BANGSA INI DIDI2K AGAR BISA TAAT KE PADA ALLAH.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: